1. Semi Uji Perah (Semi Perproef)
Untuk mengetahui kinerja pabrik, PG Soedhono telah dilakukan semi uji perah 2
kali ulangan masing-masing ulangan ke-1 tanggal 9 Agustus 2007 jam 17:00 –
21:00 (4 jam) dan ulangan ke-2 tanggal 10 Agustus 2007 jam 07:00 – 15:00 (8
jam). Data hasil semi uji perah kinerja PG Soedhono tersebut selengkapnya sebagai
berikut:
a) Nira mentah % tebu.
Dalam semi uji perah hasil rata-rata nira mentah % tebu mencapai 98,25. Angka
tersebut sudah cukup tinggi, mengingat bahwa rata-rata PG di Indonesia dalam
masa giling 2006 (IAP, 2007) nira mentah % tebu hanya mencapai 97.73. Angka
nira mentah % tebu yang cukup tinggi tsb. merupakan salah satu dampak dari
angka rata-rata imbibisi % tebu atau imbibisi % sabut yang tinggi yaitu
rata-rata 31,72 (IAP 2007 = 30,44 %) dan 220.58 % (IAP, 2007 = 208 %). Imbibisi
% tebu maupun % sabut yang tinggi
tersebut merupakan suatu bentuk atau upaya dalam meningkatkan ekstraksi
gilingan, khususnya untuk menekan kadar pol ampas.
b) Ampas % tebu dan kadar sabut tebu.
Hasil ampas % tebu rata–rata mencapai 33,47. Hasil ampas % tebu tersebut
menunjukkan cukup tinggi, karena IAP 2007 menunjukkan rata-rata ampas % tebu
31.93. Kadar sabut % tebu cukup memadai yaitu 14,18 lebih rendah sedikit dari
sabut % tebu rata-rata IAP 2007 menunjukkan 14,49. Untuk PG Soedhono dengan
kapasitas giling lebih besar 2400 TCD kebutuhan ampas sudah tercukupi.
c) Kadar pol ampas gilingan akhir.
Hasil analisis kadar pol ampas gilingan akhir rata-rata menunjukkan 2,21. Angka
kadar pol ampas gilingan 2,21 tersebut relatif masih tinggi walaupun sudah
lebih rendah dari kadar pol ampas akhir rata-rata IAP 2007 yaitu 2,39. Kadar
pol ampas gilingan akhir yang baik yaitu < 2. Kadar pol ampas gilingan akhir
PG Soedhono yang rata-rata mencapai 2,21 tersebut masih perlu upaya
penekanannya. Upaya penekanan kadar pol ampas gilingan akhir selain dengan
imbibisi yang telah ada, maka di masa mendatang (jangka panjang) dipandang
perlu untuk mencoba pemakaian sirkulasi imbibisi untuk gilangan III dan
gilingan IV. Pemakaian sirkulasi imbibisi yang dimaksudkan yaitu nira dari
gilingan yang bersangkutan sebagian disirkulasikan ke unit gilingan di mana
nira tersebut berasal. Jumlah pemakaian imbibisi yang disirkulasi bergantung
pada parameter masing-masing gilingan dengan batasan kadar bahan kering ampas
akhir tidak basah maupun gilingan tidak mengalami selip. Sedangkan untuk jangka
pendek dipandang perlu untuk trial and error tentang persentase distribusi
imbibisi untuk ampas gilingan II yang menuju ke gilingan III dan ampas gilingan
III yang menuju ke gilingan IV (gilingan akhir).
d) Nira asli ampas % sabut
Hasil rata-rata nira asli dalam ampas % sabut selama semi uji perah menunjukkan
56,03. Angka tersebut menunjukkan masih tinggi, mengingat bahwa rata-rata nira
asli dalam ampas % sabut IAP 2007 mencapai 52,0 sehingga masih perlu upaya
untuk menekan angka nira dalam ampas % sabut tersebut menjadi lebih kecil.
Angka nira asli ampas % sabut tersebut diharapkan rendah agar kadar pol ampas
dapat lebih rendah lagi dan ekstraksi diharapkan dapat meningkat. Masih perlu
pembenahan di setelan gilingan.
e) Kadar nira tebu.
Hasil perhitungan kadar nira tebu rata-rata selama semi uji perah mencapai
80,53. Walaupun sudah lebih tinggi dari kadar nira tebu rata-rata IAP 2007 yang
juga hanya mencapai 79,86, tetapi diharapkan bisa mencapai angka secara teknologi
gula yaitu > 84.
f) Imbibisi % tebu dan imbibisi %
sabut.
Hasil perhitungan imbibisi % tebu menunjukkan rata-rata 31,72 dan imbibisi %
sabut rata-rata 220,58. Hasil rata-rata imbibisi % tebu dan imbibisi % sabut
tersebut cukup tinggi, mengingat bahwa rata-rata imbibisi % tebu dan imbibisi %
sabut dalam IAP 2007 hanya menunjukkan 30,44 dan 208. Namun apabila masih
memungkinkan dapat ditingkatkan akan lebih baik secara teknologi .Upaya
peningkatan imbibisi % tebu tersebut dilakukan tentunya dalam rangka menekan
kadar pol ampas gilingan akhir. Walaupun imbibisi % tebu dan imbibisi % sabut
telah menunjukkan angka yang relatif sudah cukup tinggi, namun angka kadar pol
ampas juga masih tinggi yaitu masih lebih > 2,00. Dalam hal ini, maka kajian
mendalam sehubungan dengan penekanan kadar pol ampas akhir ini perlu dilakukan.
g) Hasil Bagi Pemerahan Brix (HPB).
Hasil ekstraksi gilingan yang merupakan salah satu parameter dinyatakan dengan
HPB I (Hasil Bagi Pemerahan Brix gilingan I) rata-rata mencapai 59,61 %. Angka
HPB I rata-rata 59,61 % tersebut masih sangat rendah, mengingat bahwa rata-rata
HPB I PG di Indonesia dalam masa giling 2006 mencapai hanya 61,51 (IAP, 2007).
Angka rata-rata HPB I 59,61 dan 61,51 tersebut (IAP, 2007) masih rendah,
sehingga perlu upaya peningkatan. Secara teknologi gula, angka rata-rata HPB I
yang diharapkan (baik), yaitu > 65. Selanjutnya untuk hasil ekstraksi
gilingan yang lain yang dinyatakan dengan parameter HPB total mencapai
rata-rata 90,00. Angka HPB total rata-rata 90,00 tersebut juga masih rendah
sehingga perlu upaya peningkatan, demikian pula rata-rata HPB total PG di
Indonesia dalam masa giling 2006 mencapai yang hanya 90,61 (IAP, 2007). Untuk PG Soedhono
pencapaian HPB total yang masih rendah tersebut penyebabnya antara lain; pencapaian angka HPB I rata-rata
masih sangat rendah yaitu 59,61 dan penyebab lainnya yang perlu dikaji secara
mendalam. Secara teknologi gula angka HPB total diharapkan dapat mencapai >
92.
h) Perbandingan Setara Hasil Bagi Kemurnian (PSHK)
Selama semi uji perah (semi persproef) rata-rata PSHK menunjukkan 94,27.
Pencapaian rata-rata PSHK 94,27 tersebut masih rendah karena rata-rata IAP 2007
dapat mencapai 96,01 Rendahnya rata-rata PSHK tersebut antara lain; yaitu karena kualitas tebangan tebu
giling yang masih belum prima akibat belum dapat diterapkannya prinsip
manajemen tebang angkut (TA) MSB, yaitu : “manis, segar dan bersih”. Selain
itu, kondisi sanitasi gilingan juga masih perlu upaya peningkatan.Pemakaian
bahan kimia untuk sanitasi perlu diperhatikan spesifikasi bahan tersebut
sehingga aplikasinya dapat optimal.
i) HK nira mentah dan nilai nira Nira Perahan Pertama (NPP)
Hasil analisis HK nira mentah rata-rata mencapai 68,00. Rata-rata HK nira
mentah 68,00 tersebut sangat memprihatinkan (sangat rendah) demikian juga
rata-rata IAP 2007 yang hanya mencapai 72.8 Angka HK nira mentah tersebut
merupakan salah satu cerminan bahwa kualitas tebu giling yang akan diproses
pada saat pemantauan sangat rendah. Rendahnya kualitas bahan baku tersebut juga
terlihat pada Nira
Perahan Pertama (NPP) menunjukkan rata-rata
nilai nira NPP yang masih rendah yaitu 9,73 %. Nilai nira NPP 9,73 tersebut
memprihatikan juga karena masih sedikit lebih rendah dari rata-rata nilai nira NPP
IAP 2007 yang rata-rata menunjukkan 10.62 % (termasuk masih rendah). Secara
teknologi nilai nira NPP yang diharapkan yaitu rata-rata >12. Infomasi
secara lisan yang diperoleh dari PG di Jawa yang ranking pencapaian rendemennya
tertinggi nomor 2 sampai dengan periode 15 Juli 2007 nilai nira NPP mencapai
12,55.
j) Efisiensi pengolahan.
Kinerja pengolahan yang parameternya ditunjukkan sebagai angka Winter Rendemen (WR). Sesuai metodologi di
atas digunakan angka WR yang telah dicapai PG yaitu 96,22 , sedangkan IAP 2007
rata-rata WR 96.48 jadi masih lebih rendah, sehingga masih perlu upaya
peningkatan.
Selain data pengamatan berat tebu, imbibisi, nira mentah dan hasil analisis
nira gilingan, ampas akhir serta perhitungan dalam semi uji perah atau semi
persproef di atas dilakukan pula uji petik (secara acak) terhadap blotong dan
tetes.
Rata-rata kadar pol blotong tinggi yaitu rata-rata 3,02>2,02 (IAP 2007).
Secara teknologi pol blotong yang baik diusahakan tidak lebih dari 1,5 %.
Pengamatan pada saat pemotretan hari pertama (ulangan 1) air siraman tidak
merata, tetapi setelah hari kedua ada perbaikan saluran sprayer air siraman
sehinga lebih merata, dampak dari perbaikan tersebut pol blotong mengalami
penurunan yang nyata hingga menjadi 1,93 %. Beberapa hal yang masih perlu
ditingkatkan unjuk kerja pada Rotary Vakum Filter pada saat pengamatan antara
lain tekanan vakum tinggi yang hanya mencapai rata-rata 20 cmHg yang seharusnya
antara 30 – 40 cmHg, suhu air siraman hanya 75 oC dan suhu nira
kotor ditingkatkan menjadi sekitar 90 oC. Rata-rata HK pol tetes
rata-rata pada saat uji petik rata-rata mencapai 32,5 tampak sedikit lebih tinggi dari
IAP 2007 yang rata-rata mencapai hanya 32,30 sehingga masih perlu upaya
penekanannya. Upaya penekanan HK tetes Dl. dengan meningkatkan kualitas masakan D dan sistem
pendingin masakan D yang optimal. Pengamatan suhu masakan yang masuk tangki
pemutaran masih 55,8 oC yang seharusnya sekitar 40 oC.
Terlihat di sini sistem pendinginan kurang optimal.
k) Efisiensi gilingan dan efisiensi
pabrik.
Efisiensi gilingan (yang dihitung dari HPB total x PSHK/100) selama semi uji perah rata-rata mencapai
84,84 masih lebih rendah dari rata-rata IAP 2007 yang mencapai 87,12. Sedangkan efisiensi pabrik (yang
dihitung dari HPB total
x PSHK x PSHK/10000) secara keseluruhan rata-rata mencapai 81,63 masih lebih
rendah dari IAP 2007 yang mencapai 84,05 sehingga PG Soedhono masih perlu upaya
peningkatan melalui banyak pembenahan baik peralatan gilingan, proses dan
operasionalnya dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
2.Energi dan BHR esg
Selain data sekunder WR dicoba pula untuk mengumpulkan data sekunder tentang energi yang meliputi Efisiensi
Boiler (rendemen ketel), residu % tebu, uap kering % tebu dan BHR esg dari
Laporan LP1 dan KT4 pada periode sebelum semi uji perah dilakukan. Mengingat
bahwa waktu yang tersedia untuk semi uji perah sangat terbatas, maka digunakan data sekunder.
Rendemen ketel baik periode ini maupun s/d periode ini sudah mencapai sasaran.
Hal ini ditunjang kadar sabut tebu yang sudah memadai. Demikian pula pemakaian
residu juga menunjukkan tinggi, hal tersebut juga terkait dengan Bahan Kering
(BK) ampas yang masih perlu ditingkatkan. Pada saat pengamatan BK ampas hanya
mencapai 47 %, jika dibandingkan dengan IAP 2007 yang mencapai 49 % BK masih
lebih rendah. Pemakaian uap % tebu menunjukkan lebih rendah dari sasaran baik
periode ini maupun s/d periode ini, hal tersebut diduga karena kondisi gilingan
yang belum optimal, masih perlu resetting. Selama pengamatan beberapa kali jam
berhenti karena terjadi kerusakan pada gilingan 3. Boiling House Recovery (BHR)
esg masih jauh dari sasaran baik periode ini maupun sampai dengan periode ini.
Hal ini tercermin dari kondisi bahan baku yang ada (rendah kualitasnya,
khususnya dari tinjauan HK nira mentah dan nilai nira NPP), disamping kondisi
peralatan yang ada. Oleh karena itu managemen tebang angkut (TA) – MSB mutlak
harus dilaksanakan guna dapat meningkatkan produktivitas khususnya dari
tinjauan rendemen yang dicapai.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan selama semi uji perah disimpulkan bahwa:
1. Kualitas tebu giling ditinjau dari nilai nira nira perahan pertama (NPP)
masih rendah (belum prima) yaitu rata-rata
masih 9,73 < 12, sehingga rendemen yang dicapai juga masih rendah.
2. Kinerja gilingan ditinjau dari efisiensi menunjukkan rerata 84,84 % dan efisiensi pabrik secara keseluruhan
rata-rata mencapai 81,63 < 84 sehingga masih perlu peningkatan melalui pelbagai pembenahan
peralatan gilingan, peralatan proses dan
operasionalnya baik pembenahan untuk
jangka pendek maupun untuk jangka panjang.
B. Saran
Dari hasil pemantauan di sektor pabrik selama semi uji perah disampaikan
beberapa saran untuk jangka pendek dan jangka panjang.
1. Jangka pendek
Untuk stasiun gilingan perlu
perhatian terhadap :
- sistem kontrol setelan gilingan dan keajegan feeding,
- sanitasi gilingan, perlu perhatian spesifikasi bahan sanitasi yang digunakan
dan cara aplikasinya di gilingan.
Untuk stasiun pabrik tengah perlu perhatian terhadap :
- kualitas nira kotor (berat jenis) dan suhu nira kotor dalam drum rotary
vacuum filter, sistem air siraman ( kerataan, suhu),
- operasional rotary vacuum filter(tekanan vakum dioptimalkan).
Untuk pabrik belakang perlu perhatian
terhadap :
- sistem pendingin masakan akhir yang memerlukan power yang berarti sehingga
perlu ada perhitungan terhadap efeknya dari tinjauan teknologi dan ekonomi.
2. Jangka panjang
Stasiun gilingan :
- Mencoba pemakaian sistem sirkulasi imbibisi design P3GI Pasuruan,
Perlu Audit pabrik secara keseluruhan (untuk energi, gilingan dan pengolahan)
secara efektif selama minimal 1/2 periode dan menindaklanjuti saran yang
dipandang lebih urgen (prioritas) dari tinjauan teknologis dan ekonomis.